TANJAB BARAT, LIPUTANJAMBI. Id– Harga pembelian Tandan Buah Segar (TBS) di sejumlah Perusahaan Kelapa Sawit (PKS) di wilayah Tanjab Barat tercatat mengalami penurunan per tanggal 22 Mei 2026. Data yang diperoleh menunjukkan adanya perbedaan harga yang cukup mencolok antar perusahaan, yang kini menjadi sorotan pihak legislatif.
Berikut rincian harga pembelian TBS yang berlaku per tanggal tersebut:
– PT AKM: Rp1.100 per kilogram
– PT SIP: Rp700 per kilogram
– PT ASL: Rp700 per kilogram
– PT PALMA: Rp650 per kilogram
– PT MIL: Rp600 per kilogram
– PT GBU: Rp600 per kilogram
– PT KIRANA: Rp550 per kilogram
– PT BPIP: Rp350 per kilogram
– PT RAL: Rp250 per kilogram
Merespons kondisi tersebut, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tanjab Barat dari Komisi 2, Endri Avian, meminta Pemerintah Daerah segera mengambil sikap tegas. Ia menilai, ketimpangan harga yang terjadi diduga merupakan tindakan tidak wajar dari sebagian perusahaan.
“Kami meminta Pemda melalui dinas terkait tidak tinggal diam. Harus ada tindakan tegas terhadap PKS yang dinilai nakal dan sengaja memainkan harga pembelian TBS di bawah kewajaran atau ketentuan yang berlaku,” tegas Endri Avian.
Menurutnya, praktik penetapan harga yang terlalu rendah sangat merugikan para petani sawit yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat setempat. Perbedaan harga yang sangat jauh antar satu perusahaan dengan perusahaan lain, seperti yang terlihat dari data di atas, menjadi indikasi adanya ketidakadilan dalam transaksi.
Endri juga menekankan, keberadaan peraturan daerah maupun peraturan gubernur tentang penetapan harga dasar TBS harus ditegakkan. Pemerintah harus memastikan harga yang dibayarkan perusahaan sesuai standar, sehingga hak dan kesejahteraan petani tetap terjaga.
“Jangan sampai kebijakan yang dibuat untuk melindungi petani justru diabaikan oleh perusahaan. Jika ada pelanggaran, sanksi tegas harus diberlakukan, mulai dari peringatan hingga pencabutan izin usaha,” tambahnya.
Sementara itu, penurunan harga ini disinyalir dipengaruhi oleh fluktuasi harga minyak sawit di pasar nasional maupun internasional, serta faktor kualitas buah dan ketersediaan pasokan. Namun, para petani berharap ada campur tangan pemerintah agar harga tetap stabil dan menguntungkan.(cw)






