TANJAB BARAT, LIPUTAN JAMBI.ID— Jebolnya tanggul milik PT Pelda di Desa Sungai Dualap, Kecamatan Kuala Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat belum tertangani selama lebih dari setahun. Kondisi itu menyebabkan genangan akibat air pasang terus merendam perkebunan warga hingga ratusan tanaman perkebunan mati.
Kondisi tersebut menimbulkan keresahan bagi warga, terutama para petani yang bergantung pada hasil perkebunan kelapa sawit, pinang, dan tanaman lainnya. Genangan air yang terus‑menerus mengganggu aktivitas harian sekaligus mengancam kelangsungan usaha perkebunan mereka.
Warga mengaku telah menyampaikan keluhan dan protes terkait kerusakan tanggul tersebut ke Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat melalui instansi terkait.
“Kami meminta pertanggungjawaban pihak PT Pelda atas matinya tanaman di kebun kami pasca jebolnya tanggul. Persoalan ini juga sudah kami laporkan ke dinas terkait,” ujar salah satu warga.
Warga tidak hanya menuntut pertanggungjawaban atas kerugian tanaman, tetapi juga mendesak perusahaan segera memperbaiki tanggul yang jebol guna mencegah dampak banjir yang lebih besar.
“Selain soal pertanggungjawaban atas tanaman yang mati, kami juga meminta pihak PT Pelda segera memperbaiki tanggul yang jebol,” tegasnya.
Terpisah, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Tanjung Jabung Barat Drs. Riduwan membenarkan telah menerima laporan masyarakat terkait dampak kerusakan tanggul tersebut.
Saat dikonfirmasi di ruang kerjanya pada Kamis (22‑10‑2026), Riduwan menyampaikan pihaknya bersama Camat setempat dan instansi terkait telah menggelar rapat pembahasan persoalan itu.
“Informasi tersebut benar. Hari ini kami bersama camat setempat dan beberapa instansi terkait menggelar rapat di Disbunak terkait hal itu,” ujarnya.
Riduwan menjelaskan Dinas Perkebunan dan Peternakan telah melayangkan surat teguran kepada PT Pelda, dan surat tersebut telah mendapat tanggapan dari pihak perusahaan.
“Surat teguran yang kita layangkan sudah dijawab oleh pihak PT Pelda. Hari ini alat berat untuk memperbaiki tanggul yang jebol sudah dibawa menuju lokasi,” terangnya.
Sayangnya, pihak PT Pelda belum berhasil dikonfirmasi untuk memberikan pernyataan terkait tuntutan ganti rugi warga. Meski rencana perbaikan tanggul sudah ada, persoalan ganti rugi kerugian petani akibat matinya tanaman perkebunan belum terjawab.
Masyarakat berharap perbaikan tanggul segera direalisasikan dan persoalan kerugian yang mereka alami mendapat penyelesaian yang jelas, agar dampak banjir tidak terus berlarut‑larut dan merugikan kehidupan warga Desa Sungai Dualap. (CW)