TANJAB BARAT, LIPUTAN JAMBI.ID — Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Tanjung Jabung Barat merespons cepat keluhan warga terkait penggunaan pohon pinang sebagai penyangga jaringan listrik yang telah berlangsung tiga tahun. Melalui Kabid Kawasan Permukiman Dinas Perkim, Rizal Herliawan, ST. yang akrab disapa Cecep, pihaknya menyatakan akan segera menindaklanjuti dan tim akan berkoordinasi dengan pengurus RT setempat.
“Nanti kita atur jadwal, tim akan menemui RT nya untuk koordinasi. Kami kalau ada laporan masuk, kami rekap dan tim yang mengatur jadwalnya. Karena perbaikan sudah dijadwalkan, biar kerjanya maksimal,” ungkapnya saat dikonfirmasi awak media, Minggu (23/8/2026) siang.
Ketua RT 14, Apul, membenarkan pihaknya telah dihubungi oleh Dinas Perkim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Katanya sore ini pihak dinas akan turun ke lokasi,” ujarnya singkat.
Kabar tersebut disambut lega oleh warga. Sejumlah warga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah daerah melalui Dinas Perkim yang dinilai cepat tanggap.
“Alhamdulillah, tak lupa juga kami sampaikan ucapan terima kasih kepada rekan media yang telah membantu menyampaikan aspirasi warga melalui pemberitaan,” ucap warga.
Warga berharap dengan adanya penggantian tiang listrik tersebut, masyarakat tidak lagi was-was dan khawatir, serta bisa merasa aman dan nyaman.
Sebelumnya, di tengah semarak peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81, warga RT 14, Sungai Saren, Kelurahan Bramitam Kiri, Kecamatan Bramitam, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, menyampaikan keluhan yang memprihatinkan. Selama tiga tahun, sebanyak lima batang pohon pinang masih dijadikan penyangga jaringan listrik di kawasan permukiman warga.
Beberapa pohon pinang tersebut terlihat sudah miring dan dikhawatirkan roboh sewaktu-waktu, terutama saat diterpa angin kencang atau hujan deras. Lokasi itu berada di jalur yang mengarah ke Parit 10, sehingga menimbulkan risiko keselamatan bagi siapa saja yang melintas maupun yang tinggal di sekitar lokasi.
Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya menyampaikan, penggunaan pohon pinang sebagai penyangga jaringan listrik ini sudah berlangsung cukup lama, bahkan sudah memasuki tahun ketiga.
“Di hari kemerdekaan ini, rasanya kami belum merdeka dari ketidakamanan. Jangan sampai menunggu pohonnya roboh terlebih dahulu baru dilakukan perbaikan. Sudah tiga tahun lebih kami bertahan dengan kondisi seperti ini,” ujarnya.
Warga berharap kelima penyangga jaringan listrik tersebut segera diganti dengan tiang listrik yang memenuhi standar dan kokoh, seperti yang terpasang di wilayah lainnya.(cw)







