TANJAB BARAT, Liputan jambi.id– Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Tanjab Barat bergerak cepat melakukan penyelidikan mendalam terkait dugaan distribusi paket makanan tidak layak konsumsi dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kuala Tungkal. Langkah tegas ini diambil menyusul temuan sejumlah kelayakan pangan yang mengkhawatirkan yang diterima oleh siswa di beberapa sekolah.
Penyelidikan dipicu oleh laporan mengenai kondisi paket makanan di SD 05 Kuala Tungkal, di mana ditemukan roti dengan masa kedaluwarsa yang sangat mepet (near-expired) hingga produk tanpa label tanggal produksi. Selain itu, laporan serupa juga muncul dari SMA 1 Tanjab Barat terkait temuan telur busuk dalam paket makan siang siswa.
Kasat Reskrim Polres Tanjab Barat, AKP Frans Septiawan Sipayung, saat dikonfirmasi, menyampaikan bahwa pihaknya telah memanggil dan memeriksa mitra penyedia atau pemasok Program Pangan Gratis (SPPG) untuk dimintai klarifikasi pada Selasa (24/2/2026) siang.
Dalam proses pemeriksaan, pihak mitra penyedia mengakui adanya kelalaian dalam pelaksanaan distribusi makanan. Dua poin utama kelalaian yang diakui adalah faktor kesalahan manusia (human error) dan manipulasi label kedaluwarsa.
Penyedia mengakui bahwa distribusi telur busuk murni disebabkan oleh human error saat proses pengepakan. Sementara terkait temuan roti di SD 05, penyedia mengaku sengaja memajukan tanggal kedaluwarsa yang seharusnya tanggal 27 menjadi tanggal 24 dengan alasan agar siswa segera mengonsumsinya.
AKP Frans menegaskan bahwa Kepolisian Republik Indonesia (Polri) tidak akan berkompromi dengan standar keamanan pangan, terutama pada program nasional yang menyasar kesehatan generasi muda.
“Fokus utama kami adalah menjamin standar keamanan pangan dalam program nasional ini terpenuhi. Kami akan terus mengawasi distribusi Program MBG agar tujuan pemenuhan gizi anak sekolah benar-benar tercapai tanpa risiko kesehatan,” tegas AKP Frans Septiawan.
Polres Tanjab Barat berkomitmen untuk terus memantau rantai pasok program ini guna memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali dan kualitas gizi yang diterima siswa tetap terjaga sesuai standar yang ditetapkan pemerintah. (CW)






