TANJAB BARAT, LIPUTAN JAMBI.ID — Menindaklanjuti informasi di lapangan yang menyebutkan banyak petani padi mengalami gagal panen akibat kemarau panjang, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tanjung Jabung Barat, M. Riza Pahlevi, SE., MM., memberikan penjelasan terkait kondisi tersebut saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Kamis (17/9/2026).
Kadis menjelaskan bahwa gagal panen atau yang dikenal sebagai fuso adalah kondisi ketika lahan pertanian mengalami kerusakan total akibat faktor tertentu seperti kekeringan, banjir, atau serangan hama sehingga tanaman tidak dapat dipanen sama sekali atau hasil panen berada di bawah batas ekonomis yang ditetapkan.
Hingga bulan Juli 2026, tercatat luas lahan padi yang mengalami gagal panen mencapai 87 hektar, tersebar di beberapa kecamatan,Kecamatan Betara 9 hektar, Kecamatan Merlung 13 hektar, dan Kecamatan Pengabuan 65 hektar. Kerusakan tersebut tidak terjadi dalam satu hamparan yang utuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Setiap tahun pasti ada kondisi seperti ini, biasanya karena banjir atau kemarau. Kerusakan lahan tidak terjadi menyeluruh dalam satu hamparan,” jelas Riza Pahlevi.
Terkait upaya penanganan bagi petani yang terdampak, Kadis menjelaskan mekanisme penggantian benih.
“Jika terjadi fuso dan tersedia stok benih di Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tanjung Jabung Barat, maka akan langsung diganti. Seandainya stok tidak tersedia, kami akan mengusulkan ke Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan Provinsi Jambi,” ungkapnya.
Lanjutnya, pihaknya berkomitmen untuk memfasilitasi penggantian benih bagi petani yang terdampak.
“Apabila ada laporan resmi dari para petani, maka kami akan bantu penggantian benih,” tegasnya.(cw)







