JAKARTA – Puncak kreativitas dan dedikasi tampak nyata di wajah para anggota Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) Cabang XXVI Kodim 0419/Tanjab, saat mengikuti hari ketiga sekaligus penutup pelatihan kerajinan berbahan dasar eceng gondok. Bertempat di Balai Kartini, Jakarta,lokasi yang dikenal sebagai simbol emansipasi dan prestasi perempuan.kegiatan ini mencapai tahap paling krusial, yakni penyempurnaan karya atau tahap finishing.
Sejak pagi, aula Balai Kartini berubah menjadi ruang pamer seni yang hidup. Jika hari-hari sebelumnya ruangan ini dipenuhi tumpukan serat mentah dan kerangka karya yang belum selesai, suasana kini tampak lebih rapi dan profesional. Hari ketiga ini menjadi momen penentuan bagaimana anyaman tangan sederhana bertransformasi menjadi produk berkualitas tinggi yang layak bersaing di pasar tingkat atas.
Memasuki tahap akhir, para peserta memfokuskan perhatian pada detail-detail kecil yang sering kali menjadi penentu nilai jual sebuah produk. Di bawah bimbingan instruktur berpengalaman, ibu-ibu Persit Tanjab melakukan proses trimming atau pembersihan sisa serat yang mencuat, agar permukaan keranjang buah terasa halus dan nyaman saat disentuh.
Langkah selanjutnya yang tak kalah penting adalah proses pelapisan atau coating. Menggunakan bahan yang ramah lingkungan, lapisan ini memiliki dua fungsi utama: memberikan kilap mewah, sekaligus melindungi keranjang dari serangan jamur dan kelembapan. Mengingat eceng gondok adalah bahan serat alami, teknik pelapisan ini menjadi kunci agar karya buatan tangan ini awet dan dapat bertahan bertahun-tahun lamanya.
“Hari ketiga ini adalah bukti nyata kemampuan kita. Kami tidak hanya ingin membuat keranjang yang kuat, tapi juga karya yang memiliki ‘jiwa. Lapisan akhir ini akan membuat warna cokelat keemasan alami eceng gondok semakin menonjol, dan terlihat sangat eksklusif saat ditempatkan di dalam ruangan,” ujar salah satu koordinator kegiatan, di sela-sela kesibukan mendampingi peserta.
Kegiatan di Balai Kartini, gedung yang dinamai dari tokoh pejuang hak-hak perempuan memberikan makna tersendiri bagi seluruh peserta. Lokasi ini seolah menyuntikkan semangat kemandirian bagi para istri prajurit. Keranjang buah yang mereka hasilkan bukan sekadar wadah penyimpanan, melainkan simbol ketangguhan perempuan militer yang mampu mengubah tantangan lingkungan.keberadaan gulma eceng gondok menjadi peluang ekonomi yang nyata dan bernilai.
Beragam motif anyaman yang tercipta mulai dari motif melati, tulang ikan, hingga anyaman polos yang minimalis mencerminkan kekayaan budaya dan ketelatenan tangan pembuatnya. Di hari terakhir ini, keranjang-keranjang itu tampak kokoh, rapi, dan penuh nilai seni, siap dipamerkan sebagai kebanggaan masyarakat Tanjung Jabung Barat.
Selain keterampilan teknis, hari ketiga pelatihan juga diisi sesi evaluasi dan penyusunan strategi pemasaran. Para peserta diajak untuk tidak hanya mahir menganyam, tetapi juga cerdas membaca kebutuhan pasar. Berlokasi di Jakarta, para anggota Persit mendapatkan wawasan baru mengenai standar kualitas produk yang dicari oleh konsumen di kota besar maupun pasar yang lebih luas.
Produk kerajinan eceng gondok ini sangat selaras dengan tren gaya hidup masa kini yang mengusung konsep sustainable living atau hidup berkelanjutan. Tanpa unsur bahan plastik, karya ibu-ibu Persit ini menjadi solusi tepat bagi kebutuhan dekorasi rumah ramah lingkungan yang semakin diminati masyarakat perkotaan, termasuk di Jakarta.
Menjelang sore, aroma cairan pelapis yang segar dan deretan keranjang berkilau indah menandai berakhirnya rangkaian kegiatan. Rasa haru dan bangga menyelimuti suasana aula Balai Kartini. Apa yang bermula dari tumpukan tanaman liar di rawa-rawa Tanjab, kini telah berubah menjadi karya seni dekorasi rumah yang elegan, dan dipamerkan di jantung ibu kota negara.
Dalam sambutan penutup, Ketua Persit KCK Cabang XXVI Tanjab berpesan agar ilmu dan keterampilan yang didapat selama tiga hari tidak berhenti di sini. “Jangan biarkan kemampuan ini selesai di Balai Kartini. Bawa pulang ilmu ini, ajarkan kepada keluarga dan lingkungan sekitar, dan mari kita bangun ekonomi kreatif yang tumbuh dari rumah kita sendiri,” ujarnya dengan penuh semangat.
Pelatihan ini pun ditutup dengan hasil yang gemilang. Persit Tanjab telah membuktikan bahwa dengan ketelatenan dan kerja keras, alam telah menyediakan segala sumber daya yang dibutuhkan untuk meraih kemandirian ekonomi. Dari anyaman sederhana, lahir karya luar biasa yang membawa nama baik Tanjung Jabung bersinar di panggung nasional.(cw)






