Liputan Jambi. id– Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) Perwakilan Jambi dikabarkan melakukan pemeriksaan intensif terhadap proyek pembangunan dinding panjat tebing di Sport Center Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang menelan anggaran mencapai Rp 3 Miliar.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Apri Dasman, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp terkait dugaan proyek tersebut masuk dalam temuan BPK, hanya menjawab singkat.
“Tunggu hasil dari pemeriksaan BPK,” ujar Apri Dasman, tanpa menjelaskan lebih detail terkait kondisi fisik proyek maupun dugaan penyimpangan yang santer diberitakan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi mengenai apakah temuan-temuan teknis di lapangan merupakan hal wajar atau indikasi pelanggaran dalam pelaksanaan proyek bernilai miliaran rupiah tersebut.
Diberitakan sebelumnya, sumber yang dikutip melalui searah.co menyebutkan bahwa kegiatan pemeriksaan oleh tim BPK tersebut dilaksanakan pada bulan puasa tahun 2026.
“Pemeriksaan bulan puasa kemarin (red: 2026),” kata sumber, Sabtu (4/4/2026).
Dalam proses pemeriksaan tersebut, diketahui juga turut didampingi oleh pihak pelaksana proyek. Sumber membenarkan bahwa sosok yang dikenal sebagai Edi Lim, selaku pengurus dari kontraktor yang mengerjakan fasilitas olahraga tersebut, turut hadir mendampingi saat pemeriksaan berlangsung.
“Iya, ada kontraktornya Edi Lim pas pemeriksaan itu,” ucapnya singkat.
Berdasarkan pantauan awak media di lokasi, kondisi fisik pembangunan tersebut memunculkan kekhawatiran terkait mutu dan kualitas pekerjaan.
Secara kasat mata, terlihat sejumlah kejanggalan. Salah satu yang mencolok adalah kondisi di bawah pondasi yang sering tergenang air. Hal ini dikhawatirkan dapat menggerus struktur tanah dan mengurangi daya dukung bangunan dalam jangka panjang.
Selain itu, elemen struktur besi pada beberapa titik terlihat sudah mulai berkarat, padahal proyek ini belum lama dibangun. Temuan lain yang menjadi perhatian adalah adanya lubang pada sambungan besi yang tidak dipasang baut pengunci, serta kondisi tiang beton penyangga yang mulai terlihat retak-retak.
Tidak hanya struktur, kualitas finishing juga dinilai kurang maksimal. Permukaan fiber dinding panjat yang dicampur pasir terasa sangat kasar. Sementara itu, hasil penyambungan dengan las pada rangka besi juga terlihat tidak rapi.
Kondisi ini tentu memunculkan pertanyaan besar mengenai standar keamanan dan ketahanan bangunan, mengingat fasilitas ini nantinya akan digunakan untuk kegiatan olahraga yang membutuhkan tingkat keamanan tinggi.(tim)






